<p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><b><span lang="EN-US" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">DALUNG (24/07/2026) -</span></span></b><span lang="EN-US" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif"> Upacara Melasti Krama Desa Adat Dalung di Segara Perancak, Banjar Berawa, Desa Tibubeneng pada Senin (15/3). Pada Upacara Melasti ini diikuti oleh seluruh krama Desa Adat Dalung, Bendesa Adat Dalung, Kelian Banjar Adat se-Desa Adat Dalung., Pemangku lan kesinoman Pura Desa Puseh, Dalem, beserta Pura Sanak Putra yang berada di Desa Adat Dalung. Dalam pelaksanaan upacara Melasti ini juga diatensi oleh Pecalang Sakral dan Satuan Pengaman lainnya yang turut dalam iring-iringan melasti menuju Segara Perancak.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="FI" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Melasti adalah upacara ritual yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali. Upacara Melasti dilakukan sebagai bagian dari persiapan menyambut Hari Raya Nyepi, yang merupakan hari raya umat Hindu yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali. Di Desa Adat Dalung, Melasti dilakukan dua hari sebelum Hari Pengrupukan. Sehari sebelum Melasti, para pemangku dan kesinoman Pura Desa lan Puseh, Pura Dalem, dan Pura Sanak Putra akan mempersiapkan dan menghias Joli/Jempana sebagai tempat pelawatan Ida Bhatara yang ada di setiap pura. Setelah prosesi ngias/menghias selesai maka pelawatan ataupun pratima masing-masing pura akan diiring menuju Bale Panjang atau Bale Agung yang ada di Pura Desa untuk berkumpul sebelum besok harinya dilaksanakan Upacara Melasti.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="FI" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Pada pukul 06.00 Wita di hari Melasti para Pemangku dan juga kesinoman pura akan berkumpul untuk mundut Ida Bhatara naik ke Joli/Jempana sebelum nantinya diiring menuju Segara/Pantai Perancak. Selama iring-iringan menuju segara, para kesinoman istri akan mekidung dan kesinoman lanang atau pemuda akan megambel sampai tiba di pantai. Prosesi melasti diisi dengan persembahyangan bersama, nunas tirta segara, serta pecaruan/mecaru, dan baru lah pelawatan Ida Bhatara Sami diiring kembali ke Bale Panjang/Bale Agung Pura Desa.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="FI" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Prosesi Melasti disebut sebagai <i>“nganyudang malaning gumi ngamet tirta amertha” </i>yang berarti menghanyutkan atau membuang segala kotoran alam menggunakan air suci (tirta segara). Kotoran yang dimaksud adalah segala kotoran (dosa), baik dalam diri manusia (bhuana alit) maupun yang ada di dunia (bhuana agung). Bersumber dari Lontar Sunarigama dan Sanghyang Aji Swamandala yang dirumuskan dalam bahasa Jawa Kuno menyebutkan: <i>“Melasti ngarania ngiring prewatek dewata angayutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana”</i> yang artinya Melasti adalah meningkatkan Sraddha dan Bhakti kepada para Dewata manifestasi Tuhan Yang Maha Esa untuk menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa dan mencegah kerusakan alam.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="FI" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Gung Alit sebagai yowana di Desa Adat Dalung mengatakan bahwa dirinya turut serta dalam munut/nuntun Ida Bhatara selama prosesi Melasti di Segara Perancak mengalami moment yang sangat langka karena pada saat prosesi mecaru/menghaturkan persembahan di laut ada kejadian yang unik, “<b><i>Iya pada saat Melasti tahun ini ada kejadian yang menjadikan saya takjub dan menyadari bahwa Tri Hita Karana di Bali itu memang ada dan benar-benar berdampingan, kejadiannya itu saat mecaru hujan lebat dan air laut tiba-tiba pasang seolah-olah memang menunjukkan bahwa mikrokosmos dan makrokosmos atau Bhuana Agung dan Bhuana Alit sedang dibersihkan, setelahnya itu saat mepamit atau mudal cuaca kembali cerah,” </i></b>tuturnya. </span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="FI" style="font-size:10.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">Sementara itu, Bu Gung Intan sebagai krama Desa Dalung merasakan bahwa antusiasme masyarakat sangat tinggi untuk mengikuti setiap proses Melasti. <b><i>“Iya benar, ini merupakan bagian dari Tri Hita Karana bagaimana menjaga keseimbangan antara sesama manusia, alam dengan manusia dan manusia dengan Tuhan,”</i></b> pungkasnya. Ia menilai bahwa kebersamaan dan kekompakan krama dalam menjalankan tradisi ini mencerminkan rasa bhakti serta kepedulian terhadap pelestarian budaya Bali. Ia juga berharap agar tradisi Melasti ini dapat terus dijaga dan dilestarikan oleh generasi muda sebagai warisan budaya yang memiliki nilai spiritual yang tinggi.</span></span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"> </p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><b><span lang="EN-US" style="font-size:12.0pt"><span style="line-height:115%"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">(KIMDLG-005).  </span></span></span></b></p>
Implementasi Tri Hita Karana, Krama Desa Adat Dalung Ikuti Prosesi Melasti
24 Jul 2026